Rabu, 29 Mei 2019

Sangka Ku

Assalamu'alaikum wr.wb
Selamat siang semua. Minal aidin wafaidzin mohon maaf lahir dan batin kepada semua orang yang menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan 1440H.

Tak hayal hanya disini media tempat kulari dan mengadu, saat beban di kepala sudah tidak sanggup menampung apa yang sedang terjadi dan kenyataan yang sedang di hadapi. Haha itu hal yang sama saja cha, tapi menurutku saat ini pelik, pelik akan kehidupanku.

Lari ku tidak lain pada tuhanku tempat mengadu tapi tulisanku tak kan lekang untuk dikenang. Tuhan ku akhiratku, tulisanku duniaku.

Sangka ku akan kepelikannyang sedang ku hadapi. Bagai awan biru ditutupi awan tapi tidak hujan sejuk, tidak panas tidak pula hujan. Bimbang memang tapi itulah kami, keluargaku yang sebatang kara.

Sebelum-sebelum ini mungkin pernah ku menceritakan tentang keluarga ku. Bagaimana kami hidup dalam keluarga kecil dan kesendirian, terpisah oleh jarak. Pertemuan yang jauh hanya sesaat untuk kami bertiga ya.. itu bermakna bagiku.

Ya Allah semoga engkau beri kesehatan kepada ibuku yang sedang dalam penyembuhan dan engkau sembuhkan sesuatu yang baru menimpa beliau. Ibuku adalah wanita terkuat yang sudah bisa mengeluhkan penyakitnya dengan bangga kepadaku. Iya, dia tidak seperti ibu lainnya yang rela menyembunyikan penyakit demi anaknya tidak khawatir. Itulah kelebihan ibuku. Karna hanya dia menganggap i'm the only one child tempat dia mengadu kehidupan selain dari Allah.

She have brother and sister, they are solid in her family saling mendukung disaat ada yang kesusahan dan saling mencari, memberi serta mengasihi satu sama lain. Bukan itu yang aku bahas. Ini tentang keluargaku, bisa dibilang broken home. Yaaa sebut saja tinggal tidak serumah itu broken home bagiku. Walaupun orang lain mengatakan hal berbeda akan artinya.

Allah mungkin sudah punya kehendak atas kami bertiga. Mungkin untuk mendewasakan kami yang saling bergantung satu sama lain. Hidup masing-masing tanpa ada yang menemani. Mungkin Allah tahu saat kami bersama kami tidak bisa mandiri, dan mudah untuk dikelabui maupun tergerus oleh zaman.

Maksud ku begini. Saat ini ibuku sedang dalam proses penyembuhan sakit jantung yang setiap minggu harus cek up ke dokter dan itu sudah dari lama. Beberapa saat dia mengatakan terkilir saat mengangkat air, dulu aku pernah merasakan terkilir juga. Disaat tidak tahu akan mengadu kepada siapa aku hanya mengandalkan tukang urut untuk kesembuhan kaki ku. Aku marah!!! Saat tahu kaki yang terkilir itu harus di larikan ke dokter, saat ini ibuku tidak sendiri dirumah. Ada adiknya yang sedang pulang kampung. Entah apa dalih dia menggunakan dokter itu! Padahal untuk kaki terkilir saja ke tukang urut sudah bisa di lakukan. Jangankan terkilir mengobati kaki yang patah saja tukang urut bisa melakukannya dengan baik atas izin Allah.

Sangka ku apakah dia sudah terpengaruhi oleh adiknya yang dari kota itu? Apakah dengan mudah olehnya menyuruh ibuku ke dokter padahal biayanya tidak sedikit?. Tidak terpikirkah mereka akan aku, aku yang hidup di perkotaanpun masih mengandalkan obat tradisional. Itupun ibuku yang meyakinkan ku. Atau seberapa parahkah kondisi kakinya hingga harus dibawa ke dokter? Apakah patah atau pengapuran sendi lagi?

Ayahku. Belum ku bahasa dia, karna dia akan mengatakan keluh kesahnya ketika ku tanya. Dia tidak akan membuang sesuatu hanya untuk berleha leha. Entahlah apa yang dia pikirkan. Dia tinggal di rumah nenek bersama adiknya. Dia tidak mandiri, karena kebutuhan makannya ada adiknya yang akan memenuhi.

Hai kalian yang kusebutkan di atas! Ini aku, kalian melahirkan anak yang benar benar mandiri, sampai berceritapun aku harus membisu dan membiarkan tangan melepaskan segalanya. Tangis ku tertahan di kerongkongan, sesak tapi tak bisa dimuntahkan

Ada teman temanku yang menuntutku untuk bahagia, karena setiap orang punya beban masing-masing. Saat dirimu bahagia, aura bahagia akan ditularkan pada orang orang sekitarmu.

Sudah hanya itu yg aku kesahkan di tulisanku, lebihnya kepada tuhanku.