Assalamualaikum wr.wb
Gue melanjutkan cerita bersambung yang kemaren
Sekarang gue bakal makai tema some procces some goal.
Berangkat ke tanah Jawa memang berat awalnya, terlebih perkataan-perkataan orang sekitar tentang nyokap gue bakal tinggal sendirian. Gue membenarkan nyokap akan sendirian dan kesepian karena anaknya yang bandel dan punya seribu jawaban pergi dalam waktu yang cukup lama. Semua kenangan, penderitaan, penyesalan, kesedihan gue tinggalkan semua, tapi membawa tujuan.
Pikiran=pikiran bermunculan di benak gue, bagaimana bisa gue tega meninggalkan nyokap sendiri, bagaimana jika nyokap sakit, bagaimana kalau nyokap sedih, bagaimana gue kalau sakit jauh dari nyokap, bagaimana hubungan gue dengan teman lama gue, bagaimana dengan bokap gue apa dia peduli, bagaimana kalau gue tidak mampu menjalani kehidupan di sana. Semua itu gue pikirkan tetapi juga gue abaikan selama perjalanan menuju tanah jawa.
Bandung kota untuk bisa sampai ke tujuan gue, di sini gue akan memakai prinsip SEBAB dan AKIBAT. Sebab gue ke bandung dan akhirnya menghasilkan sebuah akibat. Some goal yang gue maksud disini : mencari pengalaman, belajar apa saja semampu gue menjalaninya, lulus SBMPTN 2016. Prinsip sebab akibat gue dapatkan ketika mengunjungi seminar untuk motivasi diri menghadapi ujian SBMPTN.
Berawal dari info kos-an yang gue dapat dari teman SMA gue, karna kami juga punya goal yang sama. Gue sangat bersyukur punya teman yang care dan mau berbagi bagi yang membutuhkan. Teman gue memberi tahu kos-an yang menurut gue nyaman banget dan medukung suasana belajar. Ini bukan kos-kosan biasa, Ibu kos-an gue ternyata juga orang padang. Kebetulan ada kamar kosong di daerah kompleks tentare. Berikutnya teman abang gue nolongin ngantar ke tempat bimbel dan gue langsung melakukan pendaftaran. Soal temen gue tadi, meskipun kami sama-sama bimbel tapi tempat bimbelnya berbeda walaupun jaraknya lumayan dekat.
(Kamar, Bimbel, Kamar)
Rutinitas gue tidak jauh dari yang di atas, mencoba memaksimalkan pemakaian waktu yang menurut gue kurang maksimal. Rutinitas lainnya gue dengan teman SMA gue setiap bulan pasti belanja yang banyak karena itu rutinitas anak kos-an dan gue bisa melakukannya dengan bantuan dia sesekali. Memasak bersama, sesekali belajar bersama, bicara, nonton youtube. Karena di awal bimbel gue belum intensif belajarnya. Gue bersyukur punya teman yang baik seperti dia, bayar kos-an bareng, tau online shop di instagram langsung beritahu gue, dan belanja online juga bareng, membayar puasa denda juga bareng. Intinya gue beruntung punya teman yang mau menolong seperti dia.
Bimbel pertama.... Jadwal bimbel ditempat gue sebenarnya udah berjalan selama 2 bulan, kemudian gue memutuskan untuk bergabung di kelas alumni dan berusaha mengejar materi pelajaran yang sedikit ketinggalan. Berkenalan dengan teman-teman baru yang mayoritas orang sunda. Gue masuk kelas yang anggotanya sudah full. Ada kelas baru untuk alumni yang penghuninya masih sedikit, tai gue lebih punya cemitry belajar di kelas yang sudah full ini. Alhasil siapa yang telat akan terdampar di kelas sebelah(baru). Gue pantang berbicara sebelum ada yang memulainya. Sampai cewek di sebelah gue memperkenalkan diri dan disusul dengan yang lain. Dari situ gue baru bisa bicara leluasa dan juga memperkenalkan diri dengan yang lain.
Waktu demi waktu berlalu sampai gue melakukan try out pertama gue di tempat bimbel. Gue mendapat persentase paling bawah dari teman satu kelas gue yaitu ruang 4. Sedih dengan itu tapi gue dikuatkan dengan 'kan masih tahap pengenalan' bagi gue. Gue memberanikan untuk memasang target dan gue tuliskan di dinding kamar gue. oh ia, gue belajar tidak cuma di bimbel tapi juga online. Bimbel online juga banyak memberi gue motivasi-motivasi dari tentornya, "bikin target tidak boleh tanggung-tanggung" kalian bakalan tahu bimbel online yang sudah terkenal itu, gue sebut saja zenius.
Gue Menjalani itu sesuai arus sungai saja, sampai waktu libur tiba yaitu akhir bulan desember. Berhubung gue ada di tanah jawa family dekat gue dan nyokap memutuskan untuk berlibur di tanah jawa juga. Gue berkumpul dengan abang dan adek-adek gue yang lainnya juga. Kami pergi berlibur bersama dan kena macet juga bersama tapi tetap riang. Waktu itu gue tidak bisa diam ceritanya. Usai liburan gue di ingatkan keluarga gue untuk meningkatkan intensitas belajar gue karena ujian itu semakin dekat. Seperti yang mereka katakan, gue mulai memiliki pola belajar dan waktu yang terarah. Walaupun tidak semua scedul bisa gue kerjakan dengan baik.
Teman gue di ruang 4 akan mengadakan kemping bersama. Gue ragu akan ikut atau tidak, alasan gue sih agar tidak membuang waktu dengan hal yang kurang berguna. Gue memutuskan untuk ikut dengan alasan kapan lagi gue bermain mengenal tempat den pengalaman yang baru menurut gue. Perjalanan kemping kami lalui 2 jam perjalanan dengan sepeda motor. Kemping di bawah deru hujan ngga menyurutkan semangat kami. Sampai-sampai bola kaki dijadikan bola voli oleh anak cowok. Dari sana gue mulai punya teman dekat yang berkomunikasi baik dengan gue sampai sekarang.
Semakin dekat ke hari ujian gue merasakan perasaan yang tidak menentu, Seolah-olah apa yang sudah gue pelajari belum cukup untuk gue. Nilai To gue yang naik-naik-turun. Itu membuat gue sedikit terguncang. "Akan gue bisa meraih apa yang gue inginkan atau gue melepaskannya begitu saja?". Di saat hati gue bisa dikatakan dilema berbagai saran dari orang-orang terdekat serta family masuk ke pikiran gue. Keinginan gue yang dulunya kuat sekaang goyah seperti dau yang dihembus oleh angin. Mereka memberikan masukan-masukan tidak hanya sekali atau dua kali mungkin lebih.Seharusnya waktu itu pondasi gue harus kokoh, tapi apa daya. Pengaruh dari saran mereka, pondasi yang gue tanamkan itu mulai mengabur. Di sisi benar mereka benar tapi di sisi lain mereka menghapus sedikit demi sedikit pondasi itu, yang masih menjadi pertentangan bagi gue sampai sekarang ini. Tidak tahu berbuat apa-apa karena tidak tahu siapa dan apa yang harus disalahkan.
Hari 100 sebelum ujian tersebut. Gue memberanikan diri menghubungi keluarga gue seraya meminta maaf dan do'a. Gue juga menyusun apa yang akan menjadi priyoritas utama gue ketika menjawab soal, menyusun ulang scedul, menilai apa belajar gue efektif ketika bersama atau sendirian. Memilah apa yang harus dilakukan dan tidak dilakukan sama sekali. Gue memantapkan hati dan niat serta mengikuti saran yang diberikan keluarga. Gue mulai memupuk kembali fondasi yang baru yang sudah gue tanam, meskipun fondasi lama masih saja terpikirkan. Gue berdo'a, shalat tahajut, shalat tepat waktu, dan shalat duha disertai shalat istiqarah. Kepercayaan gue hanya pada Allah dan do'a. Tidak khayal ketika shalat gue sering baper atau sedih karena gue kurang memaksimalkan usaha gue. Gue sempat mikir kalau usaha bisa maksimal jika ada orang lain tapi tidak untuk ini. Usaha bisa maksimal dari diri sendiri dan apa yang gue cintai. Terlebih untuk apa gue melakukan ini semua. Tujuan gue saat itu membanggakan nyokap gue atas jerih payahnya mencari uang.
BERSAMBUNG...
next slice judulnya di rahasiakan ya.... :))
thank you
semangat di peranatauannya mbak... semoga sukses selalu,,,
BalasHapusAmin... Makasih ya mas..maaf baru bales hehe, semoga yang terbaik buat mas juga ;)
Hapus