Assalamu'alaikum wr.wb
Ughh sorry gue kelamaan jeda membuat lanjutan cerita sebelumnya.
Seseorang di luar sana pernah mengatakan "Allah tau apa yang kamu inginkan dan yang di butuhkan". Guys di sini gue bisa menjawab dengan lapang hati di akhir. Kenyataan yang harus gue terima semuanya berasal dari yang satu. Semua ini tankdir-Nya. Semua gue kembalikan dan serahkan padanya (pray).
Bermimpilah setinggi langit seakan akan kita haus untuk menggapai itu. Saat itu gue bertekat untuk mengadu nasib di tanah jawa. gue membawa sejuta mimpi gue untuk bisa masuk ITB itu adalah sekolah perguruan tinggi negeri terkenal dan terbaik di Indonesia. Letaknya ada di Bandung, Suasana Bandung yang tidak begitu panas dan juga sejuk faktor pendukung gue untuk semangat masuk ke situ. Kampus yang luas lulusan-lulusan yang terbaik, penemuan-penemuan dan penciptaan alat-alat yang berguna untuk masyarakat.
Dulu tahun 1999, om gue wisuda dari ITB jurusan kimia murni berhubung umur gue masih 3 tahun jadi belum tau apa-apa. waktu berlalu meninggalkan sebuah jejak berupa album lama yang berisi foto imut gue. Gue bertanya dan ibu gue menjawab serta bercerita mereka yang dekat dengan gue juga bersemangat menceritakan tentang ITB, salah satu Pesemangat gue ke ITB. Gue memasuki dunia SMA banyak yang mengidamkan ITB sebagai perguruan tinggi favorit mereka. Gue juga ingin ke ITB tapi kalian tahu kan ITB itu terkenal dan gue merasa gue tidak cocok ke sana. ITB terkenal dengan SUSAHnya, ujian masuk susah ditambah jampi-jampi yang berbau susah di ITB.
Gue sempat ragu untuk memilih ITB sebagai prioritas gue, waktu itu gue minim tentang jurusan-jurusan yang sesuai dengan passion gue. Akibat keraguan-raguan ini gue juga tidak diterima di jalur undangan. Sakit tapi tidak bisa diungkapkan. Semua gue pendam di pikiran-pikiran gue, nyokap gue mengerti apa yang gue rasakan saat itu, tapi nyokap diam seakan-akan gue bisa menyelesaikannya.
Gue mengikuti ujian Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri tahun 2015. Saat itu hati gue kelabu untuk dimasuki masukan-masukan dari kerabat gue. Keyakinan gue, gue bisa mengerjakan soal sesulit apapun dan bisa lolos di salah satu pilihan gue.
Pilihan pertama gue ITB-FTSL, UI-teknologi bioproses, Undip-Teknik lingkungan. Niatnya mau ambil jurusan teknik lingkungan supaya gue bisa mengelola lingkungan lebih baik lagi, bisa memproduksi alat-alat yng bisa di sebar ke seluruh indonesia, mengurangi pencemaran-pencemaran yang kita lakukan sehari-hari. Ingin menciptakan sebuah alat untuk memproses limbah plastik yang bisa menghasilkan barang kembali dan energi listrik, bermimpi bisa mengelola perusahaan yang akan tersebar mulai di daerah-daerah kecil. Lingkungan kecil gue di Sumatera Barat, di pinggiran kota bukittinggi. Ada sebuah tugu yang membuat gue senang di Bukittinggi yaitu tugu kota terbersih di zaman Bapak Soeharto. Tapi sekarang semuanya pudar, semuanya jauh dari kata bersih jika dilihat dari tugu tersebut. Dari situ gue mulai melakukan gagasan-gagasan pada nyokap gue, apa yang gue lihat,rasakan dan apa yang ingin gue lakukan. Sepertinya jurusan teknik lingkungan yang gue ambil tepat untuk mewujudkan gagasan-gagasan gue. Berhubung teknik juga bisa merancang alat-alat meskipun harus bekerjasama dengan jurusan lain, tapi basicnya kita sudah punya. Itu yang gue pikirkan.
Keinginan gue saat itu tidak terwujud, dan gue ingat kalau Allah tau apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Gue menyimpulkan gue butuh belajar lagi untuk bisa masuk ITB yang kata orang anak-anaknya tidak main-main. Sebenarnya dari segi urutan pilihan gue sudah benar, yaitu memilih berdasarkan PG tertinggi ke terendah. tapi gue terlalu naif untuk mengambil itu. mereka yang pernah berkata "alumni saja yang sudah mengulang belum tentu bisa apalagi lo yang belajar ngga seriusnya setengah-seteangah". Gue juga patah semangat gara-gara ini. Tapi keyakinan gue, gue bisa melewati apapun dan gue bisa melakukannya.
Mengulang adalah kata yang tepay untuk gue yang memang belajar selama 1 tahun lagi untuk bisa masuk ITB. Gue mulai menyibuki diri dengan mencari info tentang jurusan-jurusan perkuliahan agar gue tidak menyesal. Sekedar mencontoh dari yang lain, mereka berani meletakkan target setinggi-tingginya. Gue meletakkan target 80% yang menurut akal sehat gue memang butuh perjuangan dan pengorbanan untuk mencapai angka tersebut. Salahnya gue hanya bisa meletakkna sebuah angka, tidak untuk menggapai. itu kesalahan gue. berbagai macam jurusan gue inginkan karena gue memikirkan bagaimana cara memajukan Indonesia. Semua jurusan yang ada di Perguruan Tinggi itu semuanya sangat dibutuhkan di Indonesia.
Jurusan selanjutnya. Gue masih kekeh terhadap teknik lingkungan, gue simpan dan gue amankan. Selanjutnya gue tertarik pada pertanian gue mencoba mencari cari tentang teknik pertanian, teknik mesin dan bioproses, teknologi pertanian. Semua berhubungan dengan pertanian dan masih berkaitan dengan lingkungan jadi gue sampai hati bisa memikirkan itu. Bertanya dengan orang sekitarpun gue jadikan andalan, apakah cocok atau tidak untuk gue yang gue pikirkan itu. Lalu Perencanaan wilayah dan kota yang juga bisa berhubungan dengan lingkungan. Kalau gue mengambil ini kemungkinan gue bisa jadi wali kota. Inspirasi gue waktu itu bapak Ridwan Kamil.
okkay, gue putuskan cerita gue disini sampai jumpa di slice berikutnya
i'm so sorry karena gue udah ngatuk berat heheheehe
BERSAMBUNG...
Sabtu, 09 Juli 2016
Jumat, 01 Juli 2016
7 bulan perantauan
Assalamualaikum wr.wb
Gue melanjutkan cerita bersambung yang kemaren
Sekarang gue bakal makai tema some procces some goal.
Berangkat ke tanah Jawa memang berat awalnya, terlebih perkataan-perkataan orang sekitar tentang nyokap gue bakal tinggal sendirian. Gue membenarkan nyokap akan sendirian dan kesepian karena anaknya yang bandel dan punya seribu jawaban pergi dalam waktu yang cukup lama. Semua kenangan, penderitaan, penyesalan, kesedihan gue tinggalkan semua, tapi membawa tujuan.
Pikiran=pikiran bermunculan di benak gue, bagaimana bisa gue tega meninggalkan nyokap sendiri, bagaimana jika nyokap sakit, bagaimana kalau nyokap sedih, bagaimana gue kalau sakit jauh dari nyokap, bagaimana hubungan gue dengan teman lama gue, bagaimana dengan bokap gue apa dia peduli, bagaimana kalau gue tidak mampu menjalani kehidupan di sana. Semua itu gue pikirkan tetapi juga gue abaikan selama perjalanan menuju tanah jawa.
Bandung kota untuk bisa sampai ke tujuan gue, di sini gue akan memakai prinsip SEBAB dan AKIBAT. Sebab gue ke bandung dan akhirnya menghasilkan sebuah akibat. Some goal yang gue maksud disini : mencari pengalaman, belajar apa saja semampu gue menjalaninya, lulus SBMPTN 2016. Prinsip sebab akibat gue dapatkan ketika mengunjungi seminar untuk motivasi diri menghadapi ujian SBMPTN.
Berawal dari info kos-an yang gue dapat dari teman SMA gue, karna kami juga punya goal yang sama. Gue sangat bersyukur punya teman yang care dan mau berbagi bagi yang membutuhkan. Teman gue memberi tahu kos-an yang menurut gue nyaman banget dan medukung suasana belajar. Ini bukan kos-kosan biasa, Ibu kos-an gue ternyata juga orang padang. Kebetulan ada kamar kosong di daerah kompleks tentare. Berikutnya teman abang gue nolongin ngantar ke tempat bimbel dan gue langsung melakukan pendaftaran. Soal temen gue tadi, meskipun kami sama-sama bimbel tapi tempat bimbelnya berbeda walaupun jaraknya lumayan dekat.
(Kamar, Bimbel, Kamar)
Rutinitas gue tidak jauh dari yang di atas, mencoba memaksimalkan pemakaian waktu yang menurut gue kurang maksimal. Rutinitas lainnya gue dengan teman SMA gue setiap bulan pasti belanja yang banyak karena itu rutinitas anak kos-an dan gue bisa melakukannya dengan bantuan dia sesekali. Memasak bersama, sesekali belajar bersama, bicara, nonton youtube. Karena di awal bimbel gue belum intensif belajarnya. Gue bersyukur punya teman yang baik seperti dia, bayar kos-an bareng, tau online shop di instagram langsung beritahu gue, dan belanja online juga bareng, membayar puasa denda juga bareng. Intinya gue beruntung punya teman yang mau menolong seperti dia.
Bimbel pertama.... Jadwal bimbel ditempat gue sebenarnya udah berjalan selama 2 bulan, kemudian gue memutuskan untuk bergabung di kelas alumni dan berusaha mengejar materi pelajaran yang sedikit ketinggalan. Berkenalan dengan teman-teman baru yang mayoritas orang sunda. Gue masuk kelas yang anggotanya sudah full. Ada kelas baru untuk alumni yang penghuninya masih sedikit, tai gue lebih punya cemitry belajar di kelas yang sudah full ini. Alhasil siapa yang telat akan terdampar di kelas sebelah(baru). Gue pantang berbicara sebelum ada yang memulainya. Sampai cewek di sebelah gue memperkenalkan diri dan disusul dengan yang lain. Dari situ gue baru bisa bicara leluasa dan juga memperkenalkan diri dengan yang lain.
Waktu demi waktu berlalu sampai gue melakukan try out pertama gue di tempat bimbel. Gue mendapat persentase paling bawah dari teman satu kelas gue yaitu ruang 4. Sedih dengan itu tapi gue dikuatkan dengan 'kan masih tahap pengenalan' bagi gue. Gue memberanikan untuk memasang target dan gue tuliskan di dinding kamar gue. oh ia, gue belajar tidak cuma di bimbel tapi juga online. Bimbel online juga banyak memberi gue motivasi-motivasi dari tentornya, "bikin target tidak boleh tanggung-tanggung" kalian bakalan tahu bimbel online yang sudah terkenal itu, gue sebut saja zenius.
Gue Menjalani itu sesuai arus sungai saja, sampai waktu libur tiba yaitu akhir bulan desember. Berhubung gue ada di tanah jawa family dekat gue dan nyokap memutuskan untuk berlibur di tanah jawa juga. Gue berkumpul dengan abang dan adek-adek gue yang lainnya juga. Kami pergi berlibur bersama dan kena macet juga bersama tapi tetap riang. Waktu itu gue tidak bisa diam ceritanya. Usai liburan gue di ingatkan keluarga gue untuk meningkatkan intensitas belajar gue karena ujian itu semakin dekat. Seperti yang mereka katakan, gue mulai memiliki pola belajar dan waktu yang terarah. Walaupun tidak semua scedul bisa gue kerjakan dengan baik.
Teman gue di ruang 4 akan mengadakan kemping bersama. Gue ragu akan ikut atau tidak, alasan gue sih agar tidak membuang waktu dengan hal yang kurang berguna. Gue memutuskan untuk ikut dengan alasan kapan lagi gue bermain mengenal tempat den pengalaman yang baru menurut gue. Perjalanan kemping kami lalui 2 jam perjalanan dengan sepeda motor. Kemping di bawah deru hujan ngga menyurutkan semangat kami. Sampai-sampai bola kaki dijadikan bola voli oleh anak cowok. Dari sana gue mulai punya teman dekat yang berkomunikasi baik dengan gue sampai sekarang.
Semakin dekat ke hari ujian gue merasakan perasaan yang tidak menentu, Seolah-olah apa yang sudah gue pelajari belum cukup untuk gue. Nilai To gue yang naik-naik-turun. Itu membuat gue sedikit terguncang. "Akan gue bisa meraih apa yang gue inginkan atau gue melepaskannya begitu saja?". Di saat hati gue bisa dikatakan dilema berbagai saran dari orang-orang terdekat serta family masuk ke pikiran gue. Keinginan gue yang dulunya kuat sekaang goyah seperti dau yang dihembus oleh angin. Mereka memberikan masukan-masukan tidak hanya sekali atau dua kali mungkin lebih.Seharusnya waktu itu pondasi gue harus kokoh, tapi apa daya. Pengaruh dari saran mereka, pondasi yang gue tanamkan itu mulai mengabur. Di sisi benar mereka benar tapi di sisi lain mereka menghapus sedikit demi sedikit pondasi itu, yang masih menjadi pertentangan bagi gue sampai sekarang ini. Tidak tahu berbuat apa-apa karena tidak tahu siapa dan apa yang harus disalahkan.
Hari 100 sebelum ujian tersebut. Gue memberanikan diri menghubungi keluarga gue seraya meminta maaf dan do'a. Gue juga menyusun apa yang akan menjadi priyoritas utama gue ketika menjawab soal, menyusun ulang scedul, menilai apa belajar gue efektif ketika bersama atau sendirian. Memilah apa yang harus dilakukan dan tidak dilakukan sama sekali. Gue memantapkan hati dan niat serta mengikuti saran yang diberikan keluarga. Gue mulai memupuk kembali fondasi yang baru yang sudah gue tanam, meskipun fondasi lama masih saja terpikirkan. Gue berdo'a, shalat tahajut, shalat tepat waktu, dan shalat duha disertai shalat istiqarah. Kepercayaan gue hanya pada Allah dan do'a. Tidak khayal ketika shalat gue sering baper atau sedih karena gue kurang memaksimalkan usaha gue. Gue sempat mikir kalau usaha bisa maksimal jika ada orang lain tapi tidak untuk ini. Usaha bisa maksimal dari diri sendiri dan apa yang gue cintai. Terlebih untuk apa gue melakukan ini semua. Tujuan gue saat itu membanggakan nyokap gue atas jerih payahnya mencari uang.
BERSAMBUNG...
next slice judulnya di rahasiakan ya.... :))
thank you
Gue melanjutkan cerita bersambung yang kemaren
Sekarang gue bakal makai tema some procces some goal.
Berangkat ke tanah Jawa memang berat awalnya, terlebih perkataan-perkataan orang sekitar tentang nyokap gue bakal tinggal sendirian. Gue membenarkan nyokap akan sendirian dan kesepian karena anaknya yang bandel dan punya seribu jawaban pergi dalam waktu yang cukup lama. Semua kenangan, penderitaan, penyesalan, kesedihan gue tinggalkan semua, tapi membawa tujuan.
Pikiran=pikiran bermunculan di benak gue, bagaimana bisa gue tega meninggalkan nyokap sendiri, bagaimana jika nyokap sakit, bagaimana kalau nyokap sedih, bagaimana gue kalau sakit jauh dari nyokap, bagaimana hubungan gue dengan teman lama gue, bagaimana dengan bokap gue apa dia peduli, bagaimana kalau gue tidak mampu menjalani kehidupan di sana. Semua itu gue pikirkan tetapi juga gue abaikan selama perjalanan menuju tanah jawa.
Bandung kota untuk bisa sampai ke tujuan gue, di sini gue akan memakai prinsip SEBAB dan AKIBAT. Sebab gue ke bandung dan akhirnya menghasilkan sebuah akibat. Some goal yang gue maksud disini : mencari pengalaman, belajar apa saja semampu gue menjalaninya, lulus SBMPTN 2016. Prinsip sebab akibat gue dapatkan ketika mengunjungi seminar untuk motivasi diri menghadapi ujian SBMPTN.
Berawal dari info kos-an yang gue dapat dari teman SMA gue, karna kami juga punya goal yang sama. Gue sangat bersyukur punya teman yang care dan mau berbagi bagi yang membutuhkan. Teman gue memberi tahu kos-an yang menurut gue nyaman banget dan medukung suasana belajar. Ini bukan kos-kosan biasa, Ibu kos-an gue ternyata juga orang padang. Kebetulan ada kamar kosong di daerah kompleks tentare. Berikutnya teman abang gue nolongin ngantar ke tempat bimbel dan gue langsung melakukan pendaftaran. Soal temen gue tadi, meskipun kami sama-sama bimbel tapi tempat bimbelnya berbeda walaupun jaraknya lumayan dekat.
(Kamar, Bimbel, Kamar)
Rutinitas gue tidak jauh dari yang di atas, mencoba memaksimalkan pemakaian waktu yang menurut gue kurang maksimal. Rutinitas lainnya gue dengan teman SMA gue setiap bulan pasti belanja yang banyak karena itu rutinitas anak kos-an dan gue bisa melakukannya dengan bantuan dia sesekali. Memasak bersama, sesekali belajar bersama, bicara, nonton youtube. Karena di awal bimbel gue belum intensif belajarnya. Gue bersyukur punya teman yang baik seperti dia, bayar kos-an bareng, tau online shop di instagram langsung beritahu gue, dan belanja online juga bareng, membayar puasa denda juga bareng. Intinya gue beruntung punya teman yang mau menolong seperti dia.
Bimbel pertama.... Jadwal bimbel ditempat gue sebenarnya udah berjalan selama 2 bulan, kemudian gue memutuskan untuk bergabung di kelas alumni dan berusaha mengejar materi pelajaran yang sedikit ketinggalan. Berkenalan dengan teman-teman baru yang mayoritas orang sunda. Gue masuk kelas yang anggotanya sudah full. Ada kelas baru untuk alumni yang penghuninya masih sedikit, tai gue lebih punya cemitry belajar di kelas yang sudah full ini. Alhasil siapa yang telat akan terdampar di kelas sebelah(baru). Gue pantang berbicara sebelum ada yang memulainya. Sampai cewek di sebelah gue memperkenalkan diri dan disusul dengan yang lain. Dari situ gue baru bisa bicara leluasa dan juga memperkenalkan diri dengan yang lain.
Waktu demi waktu berlalu sampai gue melakukan try out pertama gue di tempat bimbel. Gue mendapat persentase paling bawah dari teman satu kelas gue yaitu ruang 4. Sedih dengan itu tapi gue dikuatkan dengan 'kan masih tahap pengenalan' bagi gue. Gue memberanikan untuk memasang target dan gue tuliskan di dinding kamar gue. oh ia, gue belajar tidak cuma di bimbel tapi juga online. Bimbel online juga banyak memberi gue motivasi-motivasi dari tentornya, "bikin target tidak boleh tanggung-tanggung" kalian bakalan tahu bimbel online yang sudah terkenal itu, gue sebut saja zenius.
Gue Menjalani itu sesuai arus sungai saja, sampai waktu libur tiba yaitu akhir bulan desember. Berhubung gue ada di tanah jawa family dekat gue dan nyokap memutuskan untuk berlibur di tanah jawa juga. Gue berkumpul dengan abang dan adek-adek gue yang lainnya juga. Kami pergi berlibur bersama dan kena macet juga bersama tapi tetap riang. Waktu itu gue tidak bisa diam ceritanya. Usai liburan gue di ingatkan keluarga gue untuk meningkatkan intensitas belajar gue karena ujian itu semakin dekat. Seperti yang mereka katakan, gue mulai memiliki pola belajar dan waktu yang terarah. Walaupun tidak semua scedul bisa gue kerjakan dengan baik.
Teman gue di ruang 4 akan mengadakan kemping bersama. Gue ragu akan ikut atau tidak, alasan gue sih agar tidak membuang waktu dengan hal yang kurang berguna. Gue memutuskan untuk ikut dengan alasan kapan lagi gue bermain mengenal tempat den pengalaman yang baru menurut gue. Perjalanan kemping kami lalui 2 jam perjalanan dengan sepeda motor. Kemping di bawah deru hujan ngga menyurutkan semangat kami. Sampai-sampai bola kaki dijadikan bola voli oleh anak cowok. Dari sana gue mulai punya teman dekat yang berkomunikasi baik dengan gue sampai sekarang.
Semakin dekat ke hari ujian gue merasakan perasaan yang tidak menentu, Seolah-olah apa yang sudah gue pelajari belum cukup untuk gue. Nilai To gue yang naik-naik-turun. Itu membuat gue sedikit terguncang. "Akan gue bisa meraih apa yang gue inginkan atau gue melepaskannya begitu saja?". Di saat hati gue bisa dikatakan dilema berbagai saran dari orang-orang terdekat serta family masuk ke pikiran gue. Keinginan gue yang dulunya kuat sekaang goyah seperti dau yang dihembus oleh angin. Mereka memberikan masukan-masukan tidak hanya sekali atau dua kali mungkin lebih.Seharusnya waktu itu pondasi gue harus kokoh, tapi apa daya. Pengaruh dari saran mereka, pondasi yang gue tanamkan itu mulai mengabur. Di sisi benar mereka benar tapi di sisi lain mereka menghapus sedikit demi sedikit pondasi itu, yang masih menjadi pertentangan bagi gue sampai sekarang ini. Tidak tahu berbuat apa-apa karena tidak tahu siapa dan apa yang harus disalahkan.
Hari 100 sebelum ujian tersebut. Gue memberanikan diri menghubungi keluarga gue seraya meminta maaf dan do'a. Gue juga menyusun apa yang akan menjadi priyoritas utama gue ketika menjawab soal, menyusun ulang scedul, menilai apa belajar gue efektif ketika bersama atau sendirian. Memilah apa yang harus dilakukan dan tidak dilakukan sama sekali. Gue memantapkan hati dan niat serta mengikuti saran yang diberikan keluarga. Gue mulai memupuk kembali fondasi yang baru yang sudah gue tanam, meskipun fondasi lama masih saja terpikirkan. Gue berdo'a, shalat tahajut, shalat tepat waktu, dan shalat duha disertai shalat istiqarah. Kepercayaan gue hanya pada Allah dan do'a. Tidak khayal ketika shalat gue sering baper atau sedih karena gue kurang memaksimalkan usaha gue. Gue sempat mikir kalau usaha bisa maksimal jika ada orang lain tapi tidak untuk ini. Usaha bisa maksimal dari diri sendiri dan apa yang gue cintai. Terlebih untuk apa gue melakukan ini semua. Tujuan gue saat itu membanggakan nyokap gue atas jerih payahnya mencari uang.
BERSAMBUNG...
next slice judulnya di rahasiakan ya.... :))
thank you
Langganan:
Postingan (Atom)